Teach Me Laravel Pt.1 – Sedikit Tentang Laravel

Hai! Kalau kamu buka artikel ini dalam mode Instant Article maka buka artikel ini di Google Chrome atau browser lainnya untuk pengalaman membaca yang lebih baik.

Sebagai seorang Back-end developer kita nggak bakal bisa jauh-jauh dengan bahasa pemograman sisi server, banyak sekali bahasa pemograman yang bekerja disisi server mulai dari yang gratis sampai yang berbayar. PHP adalah salah satu bahasa pemograman yang gratis dan open source. Pada tahun 2017, PHP berada diposisi ke-6 dengan kategori “Most Popular Technologies – Programming Languages” versi Stack Overflow Developer Survey.

Hari ini kita nggak akan membahas tentang PHP tapi tentang frameworknya yaitu Laravel. Walaupun sama-sama PHP tapi kalau udah membahas framework lain lagi ceritanya.

Di artikel ini kita akan membahasnya satu per satu dan artikel ini masuk kedalam seri “Teach Me Laravel” yang artinya artikel ini ber-seri atau ada kelanjutannya. Jadi, kita bukan hanya akan membahas Laravel secara teori saja tapi kita juga akan mencoba membuat aplikasi sederhana dengan Laravel Framework. 

Seri ini sangat direkomendasikan untuk kamu yang sudah berpengalaman dengan PHP Native dan sudah merasa nyaman menggunakan PHP Native. Mari kita mulai pembahasannya!

Scroll down!

Sebelum melangkah lebih jauh ada baiknya kita mengenal bapak dari Laravel atau sosok yang membuat Laravel. Laravel dibuat oleh Taylor Otwell pada tahun 2011 dan berlisensi MIT. Selebihnya kamu bisa baca  di Wikipedia 😀

Laravel?

Kenapa sih kita harus mempelajari Laravel? Gini, bukan hanya Laravel. Sebenarnya fokusnya adalah kenapa kita harus menggunakan atau beralih ke framework dibanding bertahan pada PHP Native. Banyak hal yang seharusnya membuat kamu beralih ke framework, mulai dari project kamu menjadi terstruktur sampai pengerjaan project kamu akan menjadi semakin cepat.

Kenapa bisa jadi terstruktur? Setiap kita akan menggunakan framework maka didalamnya sudah tersedia banyak sekali folder dan file yang memiliki fungsinya masing-masing dan ketika kita sudah menggunakan framework maka kita juga tidak bisa menyimpan sembarang file dan folder yang kita buat karena sudah ada “aturan main” nya. Maka dari itu kita juga akan otomatis mengikuti “aturan main” nya framework tersebut, sehingga struktur project yang biasanya acak-acakan bisa lebih terstruktur dan tentunya akan mempermudah kita dalam mencari file dan folder yang kita inginkan karena kita sudah tau tempatnya.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, dengan menggunakan framework bisa membantu proses pengerjaan project kita menjadi cepat karena framework pada umumnya menyediakan library dan helper yang akan membantu kita pada saat mengkode sehingga kita nggak perlu repot-repot lagi menulis kode yang sudah ada dari awal lagi yang tentunya akan membuang waktu.

Kembali ke Laravel, Laravel menggunakan Composer untuk me-manage dependencies nya. Kalau kamu belum tau tentang Composer, baca artikel ini: Berkenalan Dengan Composer. Tentu dengan Composer kita akan mudah sekali dalam menggunakan library pihak ketiga, ditambah Laravel memiliki banyak sekali package yang akan membuat kamu semakin betah dengan Laravel, misal saja package “InfyOm Laravel Generator” dengan package tersebut kamu dapat membuat CRUD hanya dalam waktu kurang dari 1 menit, keren kan?

MVC?

Laravel juga memiliki arsitektur MVC yaitu Model-View-Controller. 

diagram by selftaughtcoders.com

 

Diatas adalah diagram mengenai alur kerja Laravel. Jadi, ketika pengguna mengakses URL ke aplikasi kamu maka Route akan mencari URL yang terkait dengan yang diakses oleh pengguna barusan. Kemudian route akan memanggil controller yang terkait dengan route tersebut, kemudian controller mendapatkan informasi dari database melalui model, kemudian semua data tadi diteruskan ke view dan view adalah tampilan terakhir yang akan disajikan ke pengguna.

CLI?

Hal menarik lainnya dari Laravel adalah built-in command line interface. Jadi, kamu bisa melakukan beberapa hal seperti membuat Model, Controller dan yang lainnya melalui Command Line sehingga kamu bisa menghemat waktu.

Migration?

Apaan sih Migration? Migration adalah hal menarik lainnya yang tentu akan memudahkan kamu juga. Ketika kamu bekerja team dan suatu saat salah satu anggota team kamu melakukan beberapa perubahan seperti menambah atau menghapus kolom pada tabel di database, maka kamu juga harus melakukan hal yang sama agar mencegah terjadinya galat pada aplikasi kamu. Mungkin ini hal yang sederhana jika dilakukannya pada rentan waktu yang lama, tapi jika sering maka ini akan menjadi hal yang menyebalkan. Nah, disinilah peran migration ketika kamu ingin melakukan perubahan pada database maka kamu nggak perlu merubah secara langsung struktur tabel yang ingin kamu ubah, kamu hanya perlu merubah file migration nya saja. Intinya migration ini adalah sebuah file yang akan membantu kamu untuk me-manage tabel pada database. Masih bingung? Nggak apa-apa nanti pasti paham pada saat prakteknya.

The Final Episode Final Words

Sebetulnya masih banyak yang perlu kamu ketahui mengenai Laravel ini, tapi kalau kebanyakan teori nanti malah bingung sendiri. Jadi lebih baik nanti kita akan bahas pada saat sambil praktek membuat aplikasi ya, djon! Tutorial ini akan berlanjut di part berikutnya. Oh iya, jangan lupa like fanspage kami ya untuk mendapatkan berita terbaru dari situs ini dan terimakasih untuk yang udah like dari sebelumnya. Semoga bermanfaat.

Digital Ocean baner
Series NavigationTeach Me Laravel Pt.2 – Instalasi Laravel >>

Muhamad Nauval Azhar

Code of a down